Semua orang yang mengenalku bilang aku sangat sensitif dan penjijik.
Aku tak tahan dengan keberadaan serangga atau makhluk-makhluk merayap
seperti laba-laba, lipan, kelabang dan sebagainya. Aku bahkan takut
dengan kupu-kupu, karena aku tak suka rasa menggelitik jika hewan itu
terbang di dekat kepalaku atau hinggap di anggota tubuhku. Aku selalu
menyediakan kaleng penyemprot serangga di rumah, kapur pencegah semut
dan kecoa, serta sepatu atau buku sampul keras tebal di dekatku untuk
persiapan jika menemukan makhluk-makhluk semacam itu.
Rumahku
terhitung baru dan berada di lokasi yang cukup bagus; berada di lokasi
perumahan baru di daerah lembah yang baru saja dibuka (kami bisa melihat
beberapa petak gundul untuk pembangunan di tengah warna hijau di
kejauhan; sedikit menyedihkan juga, tapi kami tetap senang mendapat
rumah di daerah yang begitu indah). Aku dan suamiku baru membelinya
setahun lalu setelah putri kami lahir, dan semua bagian rumah dalam
keadaan sempurna, tanpa retakan, bagian yang lembab atau rapuh dan
sebagainya. Jadi, untungnya, aku tak pernah mengalami masalah serangga
atau hewan merayap yang parah. Biasanya hanya nyamuk atau lalat, dan
terkadang kupu-kupu atau capung, tetapi jarang (aku sengaja tidak
menanam terlalu banyak di kebunku untuk mencegah kedatangan mereka).
Akan tetapi, semuanya berubah setelah kedatangan lipan ini.
Saat
itu akhir pekan, dan aku berniat memasak makan siang istimewa untukku
dan suamiku. Ketika memotong-motong wortel dan bawang untuk membuat
meatloaf, aku merasakan sesuatu menggelitik permukaan kakiku yang hanya
mengenakan sandal bertali tipis; rasanya agak tajam menggigit walau tak
terlalu sakit. Aku spontan menengok ke bawah, dan terperanjat melihat
seekor lipan merayapi kakiku, dan di saat yang sama, kurasakan bilah
tajam pisau dapur mengiris jariku.
Aku menjerit dan langsung
mundur, tanpa sengaja membuat talenan berisi potongan wortel dan bawang
terjatuh ke lantai. Lipan! Menjijikkan sekali! Dan makhluk itu baru saja
merayapi kakiku! Rasa gemetar merayapi sekujur badanku ketika kulihat
lipan itu merayapi sisi antara lantai dan bagian bawah meja dapur,
mungkin mencari sudut gelap untuk bersembunyi. Rasa sakit yang berdenyut
dan darah yang menetes dari jariku yang teriris, ditambah kebencianku
pada lipan dan makhluk sejenisnya, membuatku mendadak marah. Kurang ajar
sekali lipan itu! Ia sudah membuatku terluka dan sekarang ingin
seenaknya menjajah rumahku dengan mengincar sudut gelap untuk sembunyi.
Tak akan kubiarkan! Dengan geram, kusambar talenan di lantai, dan ketika
lipan itu merayap sedikit ke tengah lantai ubin, kujatuhkan talenan
kayu berat itu tepat ke atasnya.
Samar-samar terdengar suara
derak lembut memuakkan saat tubuhnya remuk di bawah talenan itu. Aku
mengangkat sisi talenan yang tebal dan mengangkatnya, menjatuhkannya
lagi beberapa kali untuk memastikan. Ketika perlahan kubalik talenan
itu, aku semakin jijik. Tubuh lipan itu gepeng dan remuk; darah berwarna
gelap bercampur dengan serpihan-serpihan tubuhnya menempel di lantai
maupun talenanku. Walaupun menjijikkan, entah kenapa aku tak bisa
mengalihkan pandanganku. Mungkin karena ini pengalaman pertamaku
membunuh lipan? Makhluk yang kematiannya bisa kulihat langsung dan
memberi efek lebih besar padaku ketimbang sekedar menyemprot nyamuk
dengan obat serangga? Entahlah. Yang jelas, rasa jijikku entah kenapa
berubah menjadi kasihan. Bayangkan, lipan itu tadinya hanya merayap
santai, namun tiba-tiba saja, tanpa peringatan, hidupnya berakhir di
bawah talenan kayu berat. Mungkin saja ia salah satu hewan yang berusaha
menghindari pembukaan hutan lembah untuk perumahan ini. Akan tetapi,
melihat kepalanya yang sedikit bergerak membuat rasa kasihanku lenyap,
diganti kejijikan. Kujatuhkan lagi talenan itu.
Suamiku sempat
bertanya kenapa jariku luka (kubilang aku teriris pisau, memang benar),
dan sempat agak heran ketika aku minta dibelikan talenan baru, padahal
yang lama masih bagus ("tidak bagus memakai talenan kayu untuk makanan
basah terlalu lama," alasanku). Tapi, sejauh itu, tidak ada yang aneh.
Kami menikmati makan siang kami, dilanjutkan dengan menonton koleksi
film klasik kami hingga petang hari, sambil sesekali mengecek putri kami
yang tidur di kamar. Aku pun tak memikirkannnya lagi.
Hari
Senin, ketika aku malas-malasan menyibak selimut, kulihat sesuatu
berwarna gelap terlempar dari balik selimut ke kasur. Aku menoleh, dan
langsung waspada sepenuhnya. Dan menjerit. "Lipan!"
Suamiku terperanjat ketika aku melompat bangun begitu mendadak, dan bertanya "ada apa?"
"Lipan! Ada lipan di selimut! Dia jatuh ke arahmu!"
Suamiku bangun dan segera mengecek semua bagian selimut dan kasur,
sementara aku mengintip dari balik kamar mandi. "Tak ada apa-apa,"
ujarnya. "Kau masih setengah tidur, barangkali. Aku sudah mengecek
lantai, juga tak ada apa-apa."
"Tidak! Aku benar-benar melihatnya! Tadi ada lipan di situ! Menjijikkan! Aku tak mau tidur di kasur itu."
Suamiku menenangkanku. Dia bilang, dia akan mengganti semua sprei dan
selimut dan bahkan membalik kasur kalau aku mau. Aku merasa sedikit
tenang, dan masuk ke kamar mandi untuk menggunakan toilet serta mencuci
muka. Ketika aku membuka tutup kloset, aku menjerit. Ada seekor lipan
besar di dalamnya, menggeliat-geliut setengah terendam seolah berusaha
memanjat keluar. Aku menjerit dan cepat-cepat menggelontor kloset,
merapat ke dinding sementara lipan itu terguyur. Menjijikkan!
Menjijikkan! Aku segera berlari keluar sambil menangis, berkata pada
suamiku bahwa aku tak enak badan gara-gara melihat lipan dua kali di
pagi hari.
"Baiklah, baiklah, kau mau tiduran saja hari ini? Aku bisa belikan makan malam nanti sepulang kerja...."
"Aku tak mau tidur di kamar ini," kataku pendek.
Akan tetapi, masalah belum selesai bagiku. Aku mulai melihat lipan
dimana-mana. Sore itu, aku menemukan seekor saat hendak mencuci tangan
di wastafel dapur; kepalanya menonjol keluar dari lubang wastafel dan
menggeliat-geliut menjijikkan. Aku segera mengguyurnya. Malamnya, saat
mengambil cangkir dari lemari saat hendak membuat teh, kulihat seekor
lipan kecil merayap di dalamnya, dan aku melemparnya sejauh mungkin
hingga pecah, lalu menangis. Suamiku bertanya apakah aku tidak
berlebihan, namun aku marah sekali dengan pertanyaan itu sehingga
menolak bicara dengannya sepanjang malam. Hari-hari berikutnya jauh
lebih buruk. Saat hendak memakai selop, kulihat kepala seekor lipan
menonjol dari balik selop sebelah kiri. Saat hendak mandi, beberapa
lipan kecil jatuh dari lubang-lubang pancuran bercampur air panas. Saat
mau makan sereal, lipan jatuh bersama guyuran susu dari kotak. Saat mau
mengambil barang dari tas, tanganku selalu menyentuh paling tidak satu
lipan. Yang paling parah, kini saat hendak menyisir rambut, aku kerap
menemukan lipan terselip di antara gigi sisir, dan bahkan sekali ada
satu yang berhasil merayap di antara rambutku sebelum aku menyadarinya.
Aku ingat menjerit-jerit parah dan membeli sisir baru setelahnya, tetapi
hal yang sama selalu terjadi tak peduli berapa kalipun aku membeli
sisir. Aku mulai sering mengelabang rambutku sehingga tak mudah kusut
atau berantakan, dan aku tak perlu menyisirnya.
Suamiku mulai
mengkhawatirkanku. Ia kini lebih sering menggantikanku mengurus bayi
kami, karena aku begitu stres lantaran menemukan lipan dimana-mana.
Anehnya, lipan-lipan itu selalu menghilang dengan cepat setiap kali aku
berteriak meminta suamiku untuk melihatnya. Setelah 3 minggu mengalami
hal tersebut, aku akhirnya minta pindah rumah, tapi suamiku (yang mulai
sama stresnya denganku), membentak, "jangan ngawur. Aku tahu kau
biasanya sensitif terhadap binatang kecil, tapi ini sudah tidak lucu
lagi! Tidak segampang itu kita pindah dari rumah yang sudah kita beli
bersama-sama ini! Menurutku, solusinya bukan pindah, kau yang harus
menemui terapis!" Kami bertengkar hebat hari itu, dan suamiku
menghabiskan waktu lama sekali di kantor.
Aku merasa kesepian,
meringkuk di ruang tamu, di atas sofa yang bantal-bantalnya sudah
kusingkirkan agar bisa mengurangi tempat sembunyi untuk lipan. Aku tidak
memasak hari itu; setelah membuatkan bayiku susu, aku memesan pizza
super tipis dan renyah (ya, aku takut ada lipan dalam adonan jika aku
memesan pizza tebal), dan memotong-motongnya dengan pisau dapur serta
memakannya tanpa semangat. Aku merasa bersalah sudah bertengkar dengan
suamiku. Tapi ia tak memahamiku! Atau mungkinkah aku yang terlalu
berlebihan? Mungkin aku hanya kelewat merasa bersalah karena membunuh
seekor lipan, dan karena merasa jijik dan trauma, hal itu membekas di
benakku sehingga menimbulkan halusinasi. Ya, pasti begitu. Mungkin
suamiku benar. Mungkin aku harus menemui terapis. Ah, kurasa aku harus
minta maaf padanya. Bagaimanapun, ia marah karena ia mengkhawatirkanku.
Ketika suamiku pulang larut malam itu, aku menghambur ke arahnya dan
memeluknya, bergumam minta maaf sambil berkata aku mencintainya dan ya,
aku akan menemui terapis.
Suamiku nampak lega sekali, dan ia
balas memelukku, lantas mengangkat daguku dengan jarinya dan menciumku.
Rasanya sudah lama sekali kami tidak berciuman seperti ini. Suamiku
mungkin juga merindukanku, karena ia mendadak mendorongku ke arah sofa,
dan menjatuhkan tubuh kami berdua di atasnya. Kami berciuman lama
sekali, dan kurasakan suamiku menjulurkan lidahnya masuk ke mulutku...
...dan kurasakan sesuatu merayapi permukaan lidahku, serta sesuatu yang
agak runcing bergerak-gerak menyentuh langit-langit mulutku.
Samar-samar aku keheranan, namun kemudian, aku sadar...ini bukan lidah.
Ini lipan. Lipan besar menyaru sebagai lidah suamiku.
Aku
menjerit dan berontak, mendorong suamiku sampai terjatuh dari sofa.
Suamiku terkejut dan berteriak, "ada apa!?" Tapi aku tak mendengarnya,
dan sibuk meludah-ludah. Lipan-lipan itu akhirnya menguasainya! Aku
melihat kepala lipan itu sekarang, menyembul dari mulut suamiku; besar,
tebal, dengan warna coklat gelap dan kaki-kaki kuning, lidah paling
menjijikkan sedunia. Dan mereka mau masuk ke tubuhku!
"Ada apa denganmu!?" Teriak suamiku, nampak cemas, dan berusaha menghampiriku.
Aku tak percaya kekhawatiran palsunya. Dia bukan lagi suamiku! Dengan
campuran rasa marah dan jijik, kuambil pisau yang tadi kupakai memotong
pizza, dan kuarahkan ke makhluk yang kini bersarang di lidah suamiku
sekuat tenaga. Kurasakan kepuasan ketika ujung pisau mengenai lipan itu,
membuat darahnya muncrat dan mengeluarkan suara tercekik. Aku terus
menikam dan menikam hingga makhluk itu remuk berlumuran darah. Beres
sudah!
Aku menyeka keningku yang berkeringat dan sedikit lengket
oleh darah, lalu terpandang olehku tubuh suamiku, dengan mulut yang
sudah berubah menjadi gumpalan merah dan mata mendelik. Aku menatapnya,
lantas menangis. Maafkan aku, suamiku! Aku ingin memebaskanmu dari
makhluk menjijikkan yang sudah menguasai lidahmu itu! Aku lebih suka kau
mati sebagai manusia, daripada hidup dengan lipan sebagai lidahmu! Aku
menangis selama beberapa saat, sebelum berdiri. Aku tak tahu apa yang
harus kulakukan dengan tubuh suamiku, tapi aku ingin melihat putriku
dulu sebelum memikirkannya. Aku butuh ketenangan.
Aku berjalan
menuju kamar bayi, dan melihat putriku tertidur dengan wajah damai.
Putriku yang cantik, yang manis dan lucu; hanya dengan menggendong dan
menatapnya saat tidur saja sudah memberiku ketenangan tersendiri. Aku
mengangkat tubuhnya perlahan, lalu mendekatkannya ke dadaku dan
mengayunkannya pelan sambil bersenandung. Akan tetapi, sesuatu
menghentikan senandungku. Samar-samar, aku mendengarnya; suara
'klik-klik' kaki-kaki lipan yang merayap. Lipan yang besar, kurasa.
Aku menoleh kanan-kiri dan memeriksa lantai untuk melihat dari mana
asal suara itu. Akan tetapi, aku tak melihat lipan dimana-mana, walau
suara 'klik-klik' itu sangat jelas terdengar. Ketika mendekap tubuh
putriku makin erat, aku tersadar dan membeku di tempat. Lantas,
kudekatkan telingaku ke tubuhnya.
Suara itu keluar dari dalam dada putriku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar